Forum Komunitas Pra-Pernas

Agenda Forum Komunitas dapat didownload DISINI.

Pertemuan Forum Komunitas Pra-Pernas diselenggarakan dua hari sebelum Pernas AIDS IV dibuka, yaitu pada tanggal 1 dan 2 Oktober 2011 bertempat di Hotel Inna Garuda Yogyakarta. Pertemuan terdiri dari pertemuan pleno serta pertemuan komunitas yang dilakukan secara paralel bagi seluruh kelompok komunitas dan populasi kunci, termasuk Penasun, PS, LSL, Waria, Buruh Migran, Perempuan dan Remaja. Tujuan penyelenggaraan Forum Komunitas Pra Pernas adalah untuk melakukan konsolidasi suara kelompok komunitas dan populasi kunci dalam isu-isu penting terkait situasi epidemi dan upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.

Pertemuan ini terbuka bagi seluruh komunitas. Bagi peminat, silahkan download dan melengkapi formulir pertemuan forum komunitas dan untuk  memastikan kesertaan Anda, kirimkan kembali kepada Panitia Forum Komunitas Pernas melalui email ke pra.pernas@pernasaids.org.

Forum Komunitas ODHIV                                

Isu Utama :

1.    Luasnya geografis Indonesia mengakibatkan akses layanan pengobatan bagi ODHA, terutama ARV dan obat-obatan infeksi oportunistik, yang berdomisili di daerah Kepulauan dan di Kabupaten/Kota terpencil  kesulitan dalam mengakses. Pendistribusian ARV Pediatrik bagi anak belum merata di seluruh propinsi di Indonesia.

2.    Kurangnya upaya advokasi yang berkelanjutan untuk meningkatkan alokasi anggaran untuk pengobatan (ART dan obat-obatan infeksi oprotunistik). Saat ini alokasi dana yang disediakan pemerintah hanya 14.41% dari total pembelanjaan AIDS. 60% sumber dana untuk pembelanjaan ARV di Indonesia  berasal dari dana hibah Global Fund.

3.    Minimnya keterlibatan organisasi komunitas/kelompok masyarakat untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan ARV bagi semua Odha yang membutuhkan ARV dan mendorong tingkat kepatuhan bagi mereka yang sedang menjalani terapi.

4.      Belum tersedianya layanan untuk mendeteksi resistensi terhadap ARV.

Objective :

1.    Perluasan akses layanan pengobatan sampai kepada kabupaten/kota, sehingga dapat mempermudah ODHA yang berdomisili di Kabupaten/Kota untuk mengakses dan meringankan biaya yang dikeluarkan terkait transportasi.
2.    Peningkatan anggara untuk pengobatan AIDS.
3.    Mendorong proses Kimia Farma untuk masuk kualifikasi WHO
4.    Mendorong pendistribusian ARV pediatrik bagi anak agar merata dan dapat diakses di semua Rumah Sakit rujukan AIDS.
5.    Mendorong ketersedian alat tes resistensi ARV di Indonesia.


Forum Komunitas Buruh Migran

Tema           : 'Meningkatkan Respon Pemerintah dalam Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS pada Buruh Migran'

Isu Utama   :  
1.    Kondisi Buruh migrant dan kerentanan terhadap HIV  dan AIDS

2.    Rentan menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (trafficking), rentan mengalami kekerasan, pelecehan seksual, bahkan perkosaan, di semua tahap migrasi.

3.    Minimnya informasi terkait kesehatan yang bisa diakses oleh buruh migrant dan atau calon buruh migran

4.    Program pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS yang dilakukan pemerintah saat ini belum optimal menjangkau buruh migran.

Objective :
1.    Meningkatkan pemahaman buruh migran dan anggota keluarganya mengenai permasalahan migrasi, trafficking, HIV/AIDS, pemahaman hak-hak mereka.
2.    Mengidentifikasi hak-hak BMP yang terlanggar dan bagaimana tanggung jawab negara atas situasi terhadap HIV/AIDS dan Trafficking.
3.    Melakukan penilaian terhadap strategi pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di kalangan buruh migran
4.    Menyusun rekomendasi bersama kepada pemerintah untuk mengatasi situasi kerentanan BMI terhadap HIV/AIDS. Dokumen rekomendasi tersebut juga akan disampaikan untuk menjadi bagian dari substansi Pernas.


Forum Komunitas Perempuan

Tema          : 'STOP Feminisasi Penanggulangan HIV dan AIDS’

Isu Utama  :
1.    Kebijakan  baik di tingkat nasional dan daerah untuk penanganan dan pencegahan HIV AIDS
2.    Implementasi kebijakan penanganan HIV AIDS
3.    Minimnya pemahaman masyarakat khususnya perempuan tentang pemenuhan hak atas kesehatan baik kesehatan secara umum maupun kesehatan reproduksi .
4.    Peran serta masyarakat (tokoh agama, dan tokoh masyarakat) dalam upaya penanganan dan pencegahan HIV AIDS
5.    Pelayanan kesehatan yang diskriminatif

Objective :
1.    Review terhadap kebijakan penanganan HIV AIDS, baik yang telah mendukung dan mengakomodir kebutuhan spesifik perempuan baik yang masih bias gender
2.    Memetakan kerja implementasi kebijakan yang telah dibuat; penganggaran, pengawasan
3.    Menemukan strategi yang dapat mengoptimalkan upaya penanganan dan pencegahan HIV AIDS baik yang dapat dilakukan pemerintah baik kelompok masyarakat sipil.
4.    Menemukan strategi yang tepat untuk melibatkan tokoh agama dan tokoh adat agar menjadi bagian dari gerakan advokasi penanganan HIV-AIDS yang mengakomodir perspektif HAM dan Adil Gender.
5.    Merancang usulan-usulan konkrit terkait dengan pelayanan akan pemenuhan hak kesehatan perempuan yang bebas diskriminasi.

 

Forum Komunitas Gay, Waria dan LSL

Tema          : 'Program Komprehensif untuk LSL dan Waria Sekarang'

Sub-Tema : “Mendorong Program Penanggulangan AIDS yang Komprehensif Bagi Lelaki Sex Lelaki (LSL) dan Waria di Indonesia dalam mewujudkan Akses untuk semua dan pencapaian MDGs”

Isu Utama :

Program penanggulangan yang komprehensif bagi LSL dan Waria adalah suatu program yang terpadu dan terintegrasi antara lembaga komunitas LSL dan waria serta layanan-layanan kesehatan seksual, VCT dan layanan Care Support dan Treatment bagi LSL dan waria positif yang bersahabat.  Namun diatas semua itu, penciptaan lingkungan yang bersahabat dan mendukung terlaksananya program adalah hal yang sangat penting.  Dengan bermunculan perda-perda yang mengkriminalkan homoseksual dan pekerja seks secara langsung telah menghambat program penanggulangan AIDS bagi GWL dibeberapa daerah.

Sebagai populasi kunci yang sangat terdampak oleh epidemi HIV, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) dan waria seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih besar. Namun demikian hingga saat ini belum didapatkan formulasi yang tepat untuk program yang komprehensif bagi LSL dan waria di Indonesia, setidaknya yang sesuai dengan situasi dan kondisi di Indonesia

Objective :

Dihasilkannya suatu kesepakatan bersama antara stakeholder dengan perwakilan komunitas LSL dan Waria dalam Mendorong Program Penanggulangan AIDS yang Komprehensif Bagi Lelaki Sex Lelaki (LSL) dan Waria di Indonesia dalam mewujudkan Akses untuk semua dan pencapaian MDGs

 

Forum Komunitas Pekerja Seks

Tema :  'Stop Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Pekerja seks di Indonesia'

Isu Utama :
1.    Tingginya stigma dan diskriminasi yang membuat PS mengabaikan kesehatan.
2.    Banyaknya pelanggaran HAM dan kekerasan yang dialami oleh pekerja seks.
3.    Kriminalisasi terhadap pekerja seks
4.    Kurangnya informasi yang lengkap
5.    Kurangnya layanan yang ramah terhadap pekerja seks
6.    Adanya Perda Tibum dan Perda-perda anti prostitusi
7.    Kementerian Sosial masih menempatkan PS dan populasi kunci dalam kelompok penyandang kesejahteraan sosial.
8.    Tidak adanya keterlibatan PS dalam pembuatan kebijakan di lokasi

 Objektif :    
1.    Membangun kesadaran kritis HAM pada pekerja seks
2.    Mendorong keterlibatan pekerja seks dalam pengambilan kebijakan dan upaya penanggulangan HIV
3.    Mendorong pemerintah membuat kebijakan yang dapat melindungi pekerja seks dalam upaya penanggulangan HIV

 

Forum Komunitas Remaja

Tema          : “Supplying Comprehensive Sexual Education for Indonesian Youth”

Sub-tema  :
1.    Pendidikan Seks yang Komprehensif
2.    Advokasi Kreatif
3.    Relasi antara hak-hak kesehatan reproduksi dengan HAM

Isu Utama :
1.    Remaja adalah center of epidemics. Secara global maupun nasional, prevalensi dan insidens HIV tertinggi ada di kelompok usia muda (17-29 tahun).
2.    Terkonsentrasi di Most at Risk Young People (MARYP).
3.    Populasi remaja umum maupun MARYP belum terjangkau informasi pencegahan HIV dan AIDS dan informasi SRHR lainnya
4.    Dipaksa menjalani tes HIV yang tidak memenuhi standar (tanpa pelayanan konseling, tanpa mengisi lembar persetujuan), hasil pemeriksaan tidak dirahasiakan, dipulangkan dan tidak diperbolehkan bekerja di luar negeri kembali dan tidak ada tindak lanjut dan akses yang memadai terhadap pelayanan kesehatan
5.    Perlakuan diskriminasi dan stigma dari keluarga dan masyarakat

Objective :
1.    Memperkuat jaringan
2.    Mengidentifikasi isu-isu penting
3.    Berbagi pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan
4.    Meninjau dan memperbaharui komitmen mereka
5.    Memberikan ruang kepada remaja untuk berpartisipasi dalam menyusun kurikulum pendidikan seks yang komprehensif
6.  Menghasilkan sebuah deklarasi bersama antara remaja dan pemerintah untuk mengingkatkan komitmen dan pencapaian MDG’s 6 di tahun 2014
7.    Movement building pergerakan remaja
8.  Meningkatkan upaya-upaya advokasi untuk mendesak peningkatan anggaran untuk pengobatan AIDS.
9.    Mendorong proses Kimia Farma untuk masuk kualifikasi WHO
10. Menciptakan mekanisme sistim dukungan lanjutan berbasis masyarakat untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan.
11.   Mendorong ketersedian alat tes resistensi ARV di Indonesia.

Bookmark and Share